Pages

Translate

Powered by Blogger.
 

Wednesday, September 7, 2016

Pengalaman Jalan-jalan ke Subarctic (Kiruna) Part 1

0 comments

Welcome to winter wonderland! Penampakan yang dulunya cuma bisa gue khayalin dari film2 kartun.


Hai hai, maaf ya setelah sekian lama baru nongol lagi. Ga sibuk si, kadang2 masi bisa jengukin ni blog, balas komen, ato imel seputar cerita2 blog. Tapi itu tuuuu, mood buat nulisnya yang susah munculnya. Begitu uda muncul mood-nya, ya uda banyak yang lupa haha #niat ga sik.

Jadi, setelah mengumpulkan segenap jiwa raga, ngumpulin dokumen perjalanan en poto2 (untung poto2 diback-up otomatis ma Google Drive, klo kaga entah suda pada kemana semua) trus menyiapkan kuota internet yang cukup buat download dan upload (apaan sik), siaplah saya kini untuk berbagi cerita. Kali ini gue mo cerita soal salju2an. Yang gue yakin jadi wishlist kebanyakan penduduk negara tropis seperti saya ini. Bahkan sangking terlalu banyaknya gempuran tontonan salju2an sejak kecil, impian saya ga tanggung-tanggung, adalah menginjakkan kaki ke Kutub Utara. Dan kalo Tuhan merestui bisa sampe Kutub Selatan. Aminin yak, hehe.

Ada yang pernah komentar, kalo mau liat salju doang mah ga perlu jauh-jauh sampe Kutub Utara, noh ke Jepang, Korea, Cina aja deket. Gue ngeles lagi, lah niatnya mo liat Northen Light yang terkenal cantik itu. Trus da yang komentarin lagi, di Australi juga bisa liat aurora. Yaelah, gue ngeles lagi, impian gue lainnya ialah menginjakkan kaki ke tempat yang sejauh-jauhnya dari tanah kelahiran gue. Semakin jauh, budayanya semakin jauh berbeda, tipikal manusia dan cara berfikirnya pun jauh berbeda, jadi  makin banyak hal yang bisa saya pelajari. Yang justru membuat saya semakin jatuh cinta pada kampung halaman dan tanah air beta.

Jadi ceritanya bermain-main lah saya ke Kiruna, Swedia Utara. Iya, itulah bagian ter-utara bumi yang bisa saya datangi saat ini. Letak Kiruna sendiri adalah 145km dari kutub utara berdasarkan sumber ini https://en.wikipedia.org/wiki/Kiruna . Jadi area ini disebut juga daerah subarctic, dimana kamu bisa ngerasain midnight sun pas lagi summer, alias matahari ga tenggelam selama 24 jam. Bayangin aja kalo loe puasa disono. Seingat aku, kalo di Stockholm (ibukota Swedia) pas lagi summer matahari bersinar sampe 20-22jam sehari. Jadi, emang PR banget kalo puasaan di Eropa Utara pas jatuh pada musim panas.

Ok,perjalanan dimulai dengan menggunakan kereta dari Stockholm ke Kiruna di puncak musim dingin, yaitu bulan Januari. Sengaja milih winter. Pan mo liat si cantik aurora. Ga takut dingin? Malah itu yang saya cari haha. Bukan, bukan karena saya sombong ato suka dingin, Tapi karena saya menantang diri saya sendiri untuk bisa berada di lokasi paling dingin di dunia. Serta mencatat hingga suhu berapa dibawah nol tubuh saya bisa beradaptasi. Maklum,orang tropis yang terbiasa dengan suhu +30 derajat Celcius.

Kenapa pilih pakai kereta, bukan pesawat?

Pesawatnya mahal bangeeeetttt. Tak sanggup saya. Karena winter adalah bulan turis untuk Kiruna (yaeyalah ya winter wonderland masa mo datang pas summer), jadiiiii harga tiket pesawatnya makin melanglang buana. Percaya atau tidak biaya tiket kereta Stockholm-Kiruna PP jauh lebih mahal ketimbang semua biaya transportasi saya untuk keliling Eropa! Bisa dibayangkan tiket pesawatnya berapa , kalo pengen tau googling sendiri yak.Padahal pengen banget tu ngeliat pemandangan winter wonderland dari pesawat, pasti keren kan yak. Jadi memang, agak bikin dongkol ma mahalnya, Belum lagi biaya liburan disana, nohok banget bikin kencengin ikat pinggang. Tapi demi cita-cita, ya sudahlah ya harus ikhlas (mewek).

Terus lama perjalanan pake kereta totalnya kurang lebih 15jam, belum termasuk waktu transit 1x di kota tertentu. Ternyata transit ini penumpang berganti kereta dengan kereta khusus Arctic Circle. Berasa keren yak, beneran mo ke kutub utara xixixi.

Sama siapa kesononya?

Sendirian. Glek.

Nah ini ni sempet jadi kontroversi. Kalo gue si yakin aman-aman aja gitu pergi ke subarctic sendirian. Tapi temen-temen gue pada keder, termasuk temen Swedish gue, “Lu yakin mo kesono sendirian? Bahkan untuk kami kaum pribumi Swedia, up north itu sangat dingin. Kamu kan dari Negara tropis. Entar kalo kenapa-kenapa gimana, kedinginan pas diluar ga da orang yang tau gimana, ini kan winter bla…bla..bla”.

Keliatan cantik ya. Tapi PR banget loh ngebersihin saljunya


Tapi emang dasar niatnya luar biasa ye, jadi banyak-banyak browsing mengenai kondisi dan cuaca disana , antisipasi untuk kemungkinan terburuk, persenjatai diri dengan perlengkapan perang untuk extreme winter secara lengkap, jangan lupa berdoa untuk keselamatan, Insyaallah semua bakal baik-baik aje ye.(Bahkan untuk beli perlengkapan perang untuk winter itu super duper mahal yee*mewek lagi).

Akhirnya berangkatlah saya sendirian dengan membawa 1 backpack serta beberapa cemilan karena tak sanggup rasanya kalo harus beli makanan di dalam kereta selama 15 jam yang super duper mahal itu. Bahkan kereta sempat delay hingga lebih dari setengah jam, membuat kita para penumpang yang sudah bersiap di sepanjang rel kereta bolak balik masuk lagi ke dalam stasiun karena sungguh tak hangat menunggu diluar sana. Agak aneh memang mengingat keterlambatan seperti ini jarang terjadi di Negara maju ini.

Setelah kereta datang, semua penumpang sibuk mencari nomor gerbong dan nomor kursi masing-masing. Tebak-tebak buah manggis memang untuk menentukan nomor gerbong dan nomor kursi karena tiket menggunakan bahasa Swedia. Tapi aku rasa semua orang bisa menebaknya. Kalo ga bisa nebak juga tanya aja ma orang sekitar. 100 % penduduk Swedia can speak English fluently. Asik yak.
Setelah 3 jam kereta berhenti di kota Sundsvall, waktunya gue yang mau ke Kiruna ganti kereta sama kereta khusus Arctic Circle. Ga langsung pindah bok, nunggu dulu sejam. Banyak penumpang yang melarikan diri untuk dinner dan mencari kehangatan di dalam stasiun. Kalo aku si rencana mo liat-liat sekeliling, tapi ya mo kemana, uda gelap, jadi cuma muter-muter sekeliling stasiun. Ga lama kedinginan juga, karena suhu disini sudah lebih dingin daripada Stockholm, jadi nyerah, masuklah cari kehangatan di dalam stasiun. Begitu kereta yang kami tunggu tiba, semua penumpang berebut mencari gerbong masing-masing. Ketika suda didalam gerbong dan seat yang bener (kebetulan dapat di pinggir jendela), ada mba pramugari kereta yang nawarin kalo ada penumpang yang mau upgrade ke kelas sleeper. Itu tuh yang bisa buat tiduran kayak model bunk bed tingkat 2 dalam kereta. Dan harga yang ditawarkan cukup murah dibandingkan kalo booking online sedari awal, ternyata mereka ogah rugi juga ya daripada kosong.

Gunung yang tinggi dibelakang itu tuh obsesi guweh buat liat sunset


Cewek Cina yang duduk di sebelah gue tertarik untuk upgrade ke sleeper class, jadilah aku duduk lega sendirian haha. Kalo aku pikir-pikir tu ya, setiap aku naik kereta di Swedia yang memberikan nomor kursi, dan berpergian sendirian, penumpang lain yang duduk di sebelah orang yang sendirian itu rata-rata memiliki gender yang sama. Ringkasnya, aku bepergian cew sendirian nih, penumpang disebelahku bisa kupastikan cew juga. Kalo penumpangnya cow, maka di sebelahnya penumpang cow juga. Aku merasa mungkin itu adalah sistem mereka untuk mengurangi potensi kemungkinan mengalami pelecehan seksual, atau ketidaknyamanan duduk dengan orang asing yang berbeda gender. Apalagi mengingat berbicara dengan stranger disini sangat tidak lazim. Fiuh. Gagal deh kemungkinan bisa duduk sama cowok kece. Haha.

Setelah menyelesaikan makan malamku yang cuma roti dan coklat, aku bersiap untuk tidur. Perjalanan masih sangat panjang, setelah 3 jam dengan kereta sebelumnya, kali ini akan mempuh perjalanan selama 12 jam baru akan tiba di Kiruna. Jauh ya, padahal masih dalam satu Negara. Coba cek aja wilayah Negara Swedia yang memanjang itu, memang tampak jauh untuk mencapai wilayah paling utaranya.

Setelah beberapa jam tertidur, aku terbangun. Ada pemeriksaan tiket. Setelah itu aku suda ga bisa tidur lagi. Kuperhatikan jendela kaca disebelahku mulai membeku, bunga-bunga esnya sebagian membeku mengitari bingkai besi kaca jendela bagian dalam. Bahkan aku bisa merasakan hawa dinginnya. Padahal tepat dibawah jendela kaca, ada pemanas. Aku merasa beruntung dapat seat disebelah jendela , karena aku bisa menempelkan tubuhku atau jari-jariku kearah pemanas. Suasana sangat hening setelah pemeriksaan tiket. Semua melanjutkan tidur masing-masing. Aku melongok kearah jendela, berusaha melihat pemandangan luar ditengah malam buta. Tentu saja, nihil. Aku kembali menjatuhkan badanku dikursi dan memejamkan mata untuk tidur.

Tiba-tiba kereta berhenti. Entah berada dimana dan mengapa. Aku ga merasa kita sedang berhenti di stasiun. Ku lihat diluar hanya ada pepohonan kering bertumpukan salju. Aku ga tau apa yang terjadi, dan tampak semua orang juga bingung. Tapi para penumpang lainnya tetap diam di kursi masing-masing. Begitu juga aku.

Bunga es didalam gerbong kereta


Hingga beberapa menit kemudian aku mulai merasa aneh. Ruangan dalam gerbong ini tidak hangat lagi, aku bisa mencium hawa dingin, dan nafasku yang mulai mengeluarkan asap. Aku mulai meraba-raba pemanas dibawah jendela untuk menghangatkan jemariku yang mulai beku. Oh tidak. Pemanas tidak berfungsi. Tapi aku tetap masih tidak menyadari apa yang terjadi. Aku duduk dan diam. Tak sampai semenit diam dan merasa ada yang salah, aku mulai menyadari bahwa tubuhku butuh jaket. Aku kedinginan. Bukan kedinginan lagi, tapi nyaris menggigil. Aku buru-buru mengunakan semua perlengkapan perangku untuk melawan dingin. Dan ternyata hal serupa dilakukan oleh penumpang yang lain. Jadi memang rungan ini sudah tanpa penghangat!

Aku mengeluarkan hp dan berusaha melacak temperature saat ini. -30̊ C. Glek. Didalam gerbong besi tanpa penghangat rasanya seperti terperangkap di dalam freezer kulkas yang lebih dingin 30 x lipat. Kemudian isu yang ku dengar ada kerusakan mesin yang menyebabkan mesin penghangat mati dan kita stuck in the middle of  nowhere. Waduh, kita bisa jadi es batu nih!


Monday, February 16, 2015

Terjebak Badai dari Pulau Tarupa Ke Pulau Tinabo (Perjalanan ke Kepulauan Takabonerate Part 1)

1 comments
“Isa, aku takut…”, ucapku lirih.

Isa bergeser duduk di sebelahku menenangkan sambil berujar dengan logat bugisnya yang khas, “Tidak usa takut mi, ini uda biasa”.

Isa sebenarnya masih berusia 12 tahun, seorang gadis remaja bertubuh padat yang tangguh, berusaha menenangkanku yang lebih dari 2x lipat usianya. Awalnya aku menganggap dia seperti adik, tapi semakin kesini aku semakin yakin kalo dia lebih cocok jadi kakakku.

Just sit and watch babies shark around the beach. Pulau Tinabo.

Entah sudah berapa lama kami terombang-ambing di lautan, melawan ganasnya ombak di tengah hujan deras dan kilat menyambar-nyambar. Seharusnya perjalanan dari  pulau Tarupa kecil ke pulau Tinabo hanya sekitar setengah jam-an. Tapi di tengah badai seperti ini, rasanya sungguh sangat panjang.

Aku membuka pintu kecil tempat dimana aku dan Isa melindungi diri dari terpaan hujan dan ombak diluar, sebuah dek sempit yang biasanya juga digunakan untuk penyimpanan barang. Aku berusaha mengintip bapak, yang bersusah payah mengendalikan perahu kayunya ditengah terjaan ombak tinggi dan hujan. Pak Akbar namanya. Seorang bapak baik hati yang juga memiliki keluarga yang berjiwa mulia. Sungguh mengintipnya seperti ini, melihat ekspresinya yang berusaha sekuat tenaga agar kami bisa selamat, ketakutanku pun sirna. Aku kering dan terlindungi di dalam sini, dan dia diluar sana…Aku merasa iba sekaligus bersalah. karena keegoisanku, aku membuat pak Akbar dan Isa harus terjebak disini, demi mengantarku ke pulau Tinabo, di tengah malam buta. Sesaat ingin rasanya aku menangis.

Isa menawarkan handphonenya agar pikiranku teralihkan. Handphone polyponic kecil miliknya memiliki banyak koleksi video. Mulai dari video-video lucu, rekaman anak kecil di kampungnya yang pintar joget, sampai video klip lagu-lagu india yang memang sangat populer di kalangan penduduk pulau Tarupa kecil. Meskipun kualitas gambar hanya VGA, handphone seperti ini adalah hiburan dan pelipur lara bagi penduduk di pulau terpencil seperti ini. Karena listrik hanya ada dikala malam, itupun hanya beberapa jam saja. Ditambah tidak ada sinyal handphone, jadi handphone di pulau ini bukan berfungsi sebagai alat komunikasi, tapi sebagai pemutar video dan pemutar musik india kencang-kencang di siang hari.

Lihat! Pulau Tarupa Kecil.

Ku lirik wajah Isa sesaat. Di wajahnya juga tergambar rasa khawatir yang berusaha ditutupinya. Aku menerima tawarannya. Ku buka satu persatu video yang tersimpan di dalamnya. Dan aku pun terhibur. Bahkan aku mengirim beberapa video yang menurutku menarik ke handphoneku.

Setelah semua video  di handphone Isa ku tonton, ternyata badai masi belum usai. Ketakutanku pun mulai kembali. Mungkin Isa bisa membacanya dari wajahku.  Lagi-lagi ia berusaha menangkanku dengan menyuruhku untuk tidur. Dia bilang, dia akan membangunkanku ketika sudah sampai di pulau Tinabo.

Pikiranku berkata, meskipun ini tengah malam, bagaimana aku bisa tidur dengan ombak yang menghantam keras kapal, serasa berada di dalam ayunan yang digoyang sangat kencang. Bahkan beberapa kali air masuk ke dalam dek kecil ini lewat jendela kecil yang dihantam ombak laut. Beruntung aku bukan tipe yang gampang mabok. Pasti akan merasa seperti siksaan berlipat jika terjebak dalam kondisi ini.

Lagi-lagi ku lirik Isa. Aku tidak ingin menambah kekhawatirannya dengan kegelisahanku. Aku menurutinya, aku membaringkan tubuhku sekenanya di area sempit ini. Tidak ada pilihan lain selain tidur dengan cara melipat kaki. Isa lantas melakukan hal yang sama, berbaring di sebelahku. Aku coba memenjamkan mata, sembari berharap jika memang nanti aku ketiduran, aku tidak terbangun dalam keadaan mulai tenggelam di laut.

Isa bersama keponakan kecilnya. Isa susaaah banget diambil fotonya, maen kabur2an

Ketika mataku terpejam, aku memikirkan banyak hal. Teringat akan ibu, istri pak Akbar, bersama putrinya yang paling kecil mengantarku hingga di dermaga pada larut malam. Tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Dia seperti melepas kepergian putrinya sendiri. Tak lupa dia membawakan aku berbagai makanan dan minuman dari warung kecilnya. Ia juga membuatkanku kue sebagai bekal di jalan. Padahal dia sudah membawakanku terlalu banyak bekal untuk ku makan seorang diri. Melepas kepergianku di dermaga, dia menangis. Aku pun sedih. Tapi aku harus pergi, aku harus pulang.

Tuhan memang sangat baik, mempertemukanku dengan keluarga yang sangat luar biasa ini. Yang kini menjadi keluarga angkatku.

Tiba-tiba aku teringat bapak di luar sana. Bagaimana cara bapak menemukan arah ke pulau Tinabo. Di luar hujan deras, tidak bisa melihat bintang. Yang terlihat diluar sana hanya kegelapan. Aku membayangkan, pasti mengerikan berada di luar sana. Melihat sendiri ganasnya ombak. Melihat bagaimana kapal kayu ini berjuang. Tidak ada yang membantu bapak. Bapak berjuang melewati badai ini sendirian. Begitulah pelaut. Begitulah tinggal di kepulauan.

Kemudian pikiranku pun beralih. Bagaimana aku bisa sampai ada disini, bagaimana aku mengenal keluarga pak Akbar, dan mengapa kita harus melaut di tengah malam buta. 

Seminggu yang lalu…

Aku berjalan ke sebuah pelabuhan yang tak jauh dari alun-alun kota Benteng, pulau Selayar. Aku bertanya-tanya kepada para pemilik perahu yang bersandar di pelabuhan itu, apakah ada perahu yang akan berlayar ke kepulauan Takabonerate. Kepulauan Takabonerate itu banyak, aku tahu itu. Aku sendiri tidak yakin pulau apa yang ingin ku datangi, karena minimnya info mengenai kepulauan itu. Sampai-sampai aku tak bertemu satupun turis yang memiliki tujuan yang sama denganku. Tidak ada perahu reguler menuju ke kepulauan itu. Bayangkan saja jika berniat untuk sewa perahu kesana perlu biaya berapa. Sekali perjalanan saja butuh waktu hingga minimal 7 jam lamanya dalam cuaca normal. Sangat tidak bersahabat dengan kantong saya. Tidak ada cara lain selain mencari kapal penduduk lokal yang ingin pulang ke rumahnya di kepulauan Takabonerate. Jadi, aku harus menanyakannya satu per satu.

Sangking banyaknya pulau di ujung selatan pulau Sulawesi ini, aku hampir saja nyasar ke pulau lain kemarin. Karena nama pulaunya sangat mirip, yaitu pulau Bonerate. Yang ternyata membutuhkan waktu 12 jam naik perahu dari pelabuhan di Benteng ini. Dari situ aku baru tau, jika kata ‘taka’ pada nama kepulauan Takabonerate adalah terumbu atau karang dari bahasa lokal. Jadi kepulauan Takabonerate adalah kepulauan dengan gugusan karang. Bahkan di wikipedia mengatakan, Taman Nasional Taka Bonerate ini merupakan taman laut yang memiliki kawasan atol terbesar ketiga di dunia. Tapi sayang, entah karena promosinya yang kurang atau transportasinya yang sulit, hingga kepulauan cantik ini kurang dikenal masyarakat luas. Terutama bagi para traveler. Karena banyak dari mereka yang kutanya, tidak tau keberadaan kepulauan ini. Padahal pada akhirnya aku mengetahui, bahwa setiap tahun pemerintah setempat selalu rutin mengadakan acara di kepulauan ini dalam rangka mengenalkannya pada masyarakat luas.

Seperti mengarungi kolam renang bening yang sangaaaatt luas

Adiknya Isa. Sama susahnyaaa kalo dipoto.

Setelah beberapa kali bertanya, seorang nakhoda kapal menyarankanku untuk bertanya pada sekumpulan kapal- kapal kayu kecil yang bersandar agak dipinggir pelabuhan. Sejenak aku terdiam memperhatikan kapal-kapal itu, “kecil sekali”, dalam hatiku. Aku pun melangkahkan kakiku kesana. Tidak semua dari kapal itu ada penghuninya. Aku sempat bertanya pada sebuah kapal yang ada orangnya, tapi katanya kapal sudah penuh. Kemudian aku bertanya pada kapal kecil lainnya, dijawab kalo pemiliknya masih keluar, disuruh tunggu hingga kembali. Aku pun duduk di pinggir dermaga. Menunggu.

Setelah sang pemilik kapal kembali, aku bertanya apakah aku boleh menumpang ke kepulauan Takabonerate. Sang pemilik kapal tertegun sejenak, mungkin memperhatikan penampilanku, kemudian bertanya, “mau ke pulau apa?”.
Aku balik bertanya, “kapal bapak mau ke pulau apa?”
Dia memandangku lagi sejenak,”kamu mau ke Takabonerate ada sodara?”
“Ga ada”
Dia terkejut, “Lalu ada urusan apa kesana?”
“Jalan-jalan”, jawabku singkat.
“Berapa orang?”
“Saya sendiri”
Dia memandangku lagi seolah tak percaya, hingga kemudian berkata, “Saya mau ke pulau Tarupa, mau ikut kesana?”
“itu termasuk kepulauan Takabonerate kan? Kalau iya, aku ikut ke pulau itu”
“Iya. Kalau begitu besok pagi jam 7 kamu sudah datang kesini ya”
“iya”, jawabku girang. “mmmm ngomong-ngomong pak, saya harus bayar berapa?”
“Tidak usah”, jawabnya.

Wow. Tentu saja girangku berlipat-lipat. Bagiku bisa mendapatkan transportasi kesana sudah sangat beruntung, ditambah lagi tanpa biaya apapun.

Sang pemilik kapal itu adalah pak Akbar. Dia lah malaikat penolong ku. Yang pada akhirnya membawaku pada keberuntungan-keberuntungan lain di kepulauan cantik itu.

Aku selalu bertemu senja indah di kepulauan ini


Bersambung Takabonerate part 2


Monday, February 9, 2015

Solo Trip Naik Motor 3 Minggu Bali-Jawa-Bali

10 comments


What a wonderful world

Gak kerasa uda 3 minggu nge trip sendirian naik motor Bali-Jawa-Bali. Keliatannya  21 hari tuh panjang yak, tapi menurut gue cepeeeeett banget.  Malah banyak tempat-tempat yang belum kukunjungi, ada banyak temen pula yang belum sempet gue temuin. Jadi yang rencana awalnya bisa nge trip sampe Lampung, ato minimal sampe Jawa Barat, eeeehhh mentok cuma bisa sampe Jawa Tengah.

 Setelah gue pikir-pikir seandainya waktu itu aku langsung sewa motor untuk 2 bulan, pasti nyampe Lampung tuh, bisa mampir ke Teluk Kiluan ato ke Gunung Krakatau, dan lebih banyak tempat-tempat idaman lainnya yang bisa gue kunjungi *duit darimanaaaaaaa, getok kepala sendiri. Tapi ku syukuri, paling tidak trip ini bisa selesai dengan damai sentosa, tidak banyak hambatan, dan bisa kembali ke Bali tepat waktu dan sehat walafiat *bersyukur, terimakasih Tuhan.

Salah satu destinasi impian. Finally I'm hereeeee

Huh sok-soknya mo ngetrip naik motor sendirian nonstop 2 bulan, padahal nge trip 3 minggu aja, pergelangan tangan sukses mati rasa berhari-hari, lutut linu karena sering terhantuk, punggung juga sakit karena nahan tas yang gede en berat itu. soalnya nge trip nya sendirian sik, ga da yang bisa bisa diajak gantian mbonceeeennggg. Dan daasar cewek ga bisa light packing yak, yang dibawa seisi kosan. Daripada keliatan niat ngetrip, lebih mirip niat minggat.

Sepanjang perjalanan banyak orang yang mencecarku dengan banyak pertanyaan termasuk ketika bertemu dengan teman-teman lamaku. Kebanyakan ga ada yang percaya dengan jawabanku, kalo aku-naik-motor-jalan-jalan-sendirian-keliling-jawa-dari-bali.  Kalo suda ku kasi tau begitu, ekspresi mereka langsung melotot, dah kayak liat alien. Kalo mereka dah yakin kalo ku ga becanda, ku bakal tertahan duduk ngejawab pertanyaan-pertanyaan mereka berikutnya sampe setengah jam ato lebih. Serba salah deh, niat jujur disangka becanda, kalo mo boong ngerasa bersalah.

Banyangin selama 3 minggu itu aku ketemu berapa orang, dan bayangin aja kalo kebanyakan orang-orang itu menanyakan hal yang sama, darimana, mau kemana, ngapain, abis tu mo kemana, kok sendirian, ga takut motornya mogok dan hendibla hendibli. Lama-lama ku bisa nyanyiin lagunya Ayu Ting Ting “kemanaaaa…kemanaaa…kemanaaaa”.

kalo yang ini, ampuuunnn deh saya ga sanggup, kesian motornya. saya jalan kaki aja.

Andai boleh ku rekam semua jawabanku, tinggal ku putar ulang ketika orang-orang kutemui menanyakan hal yang sama.  Pan biar bodi gue bisa hemat batrei gitu loh. Tapi kan ga ber-etika yeeee.

Jadiiiii, sebelum ada yang nanyain gue pertanyaan-pertanyaan yang sama disini. Langsung aja gue rangkum, pertanyaan-pertanyaan yang biasanya ditanyain ke gue sehubungan dengan trip entu.

11.  Ga capek?
Beuuuhhhh robot kaleeeee ga capek. Capek bingiitttt. Tapi kan yaaaa itu hobi + penasaran + semangat + happy = capek tu apa ya?
22.  Tau jalan?
Hari gene getoooo looh, zaman gadget canggih. Uda ga perlu bawa peta kertas kusut buat penunjuk jalan. Hp android yang murah aja uda bisa dipake sebagai penunjuk arah ter-update, pake GPS and aplikasi Google Maps. Bisa diakses kapan aja dimana aja. Lah kalo di blank area yang ga ada sinyal? Yaaaaahhh think smart duong, capture ato dibuat offline ketika masi di zona ada sinyal. Daaan kalo masi nyasar juga, tanya orang laahhh. Masi di Indonesia ini, masi ngerti bahasanya, dan penduduknya terkenal ramah-ramah. Dan kalo masi nyasar jugaaaaaa, kebangetan!
33. Ga takut?
Daku penduduk Indonesia nomal, dimana lebih takut lelembut dan sebangsanya daripada perampok berkalung golok kalo dah ketemu jalanan sunyi senyap kanan kiri hutan, apalagi kalo uda ditambah kabut, aduuuu uda deh, imajinasi liar menari-nari di sekitar helm, sibuk ngelirik spion kanan kiri sapa tau aja ada yg ngikutin ato nebeng duduk di belakang ga bilang-bilang.

sepi, mendung, dingin, kanan kiri hutan pinus, tinggal ditambahin edward cullen aja

44.   Kok traveling musim ujan si, naik motor pula.
Kalo situ dikasi pilihan now or never, sampeyan pilih mana?
55.  Ini kan musim ujan, ga keujanan?
Kalo gue bilang kagak, pastinya boong. Uda ga keitung berapa kali gue keujanan di jalan, kering-basah-kering-basah meskipun uda pake jas ujan.  Hampir tiap hari kerjaan gue dah kayak maen aer  ujan. Malah kadang gue ngerasa tu awan gelap kok kayak ngikutin kemana arah gue pergi. Belum lagi kalo ketambahan jalanan banjir, jalanan gelap, mati lampu, petir menyambar-nyambar. Rasanya dah kayak makhluk paling menderita sedunia. Pertama-tama sempet ngerasa kesel, sedih, pengen nangis, kok ujan seee, trus ngapain si gue kesiniiii. Lama-lama gue uda bisa kontrol diri, ga pake kesel-keselan. Kalo pas keujanan lagi, gue milih nyanyi-nyanyi riang, dan mensyukurinya masi mending dikasi ujan aer bukan ujan batu. Tuh kaaannn, traveling juga membawa perubahan yang positif.



66.  Malam masih dijalan?
Ogah yeee, kecuali terpaksa. Aku selalu berusaha sebelum gelap sudah sampe tempat yang dituju. Pertama, ga baik buat kesehatan dan daya tahan tubuh kalo tenaganya dikebut siang malam. Kedua, jalan malam lebih berbahaya, apalagi perempuan getooo. Pernah sekali kemaleman, jadi hujan lebat, mati lampu, banjir, dan gelap, gue masih dijalanan, dan perjalanan masih cukup jauh. Beruntung jalan itu adalah jalur antar kota yang cukup ramai, jadi yaaaaa masi aman laaahh.
77.  Ga takut ban bocor atau motor mogok di tengah jalan yang sepi?
Jujur aja si, gue sering banget lewatin jalanan sepi, kanan kiri hutan, jurang, ataupun bukit-bukit tinggi yang rawan longsor. Kadang-kadang dilengkapi dengan kabut, hujan atau suara serangga hutan yang semakin membuat gue serem.  Apalagi kalo ga ada kendaraan lain satupun, atau ga nemu satu orang pun yang bisa ditanyain arah dan jalan. Tapi namanya traveling, rasa penasaran gue jauh lebih gede dibanding rasa takut dan khawatir gue, jadi yaaa mo lewatin kuburan sekalipun maju terus pantang mundur. Pastilah kemungkinan ban bocor ato motor mogok peluangnya ada, sama seperti hidup, kemungkinan untuk celaka juga ada meskipun kerjaannya cuma diem di dalam rumah. Yang terbaik adalah memperkecil peluang buruk itu, caranya, pertama, pake motor yang umurnya masih baru (kayak gue wkkk), kedua, di kota-kota tertentu yang dilalui ketika dirasa motor sudah harus di service, maka baiknya bawa motor ke bengkel resmi untuk perawatan. Ketiga, sering-sering cuci motor yah, kata temen gue, motor yang kotor dan berlumpur berpengaruh pada nyamannya berkendara. Keempat, dengarkan mesin, kalo uda mulai berasa aneh, jangan dipaksa, bawalah ke bengkel terdekat. Soalnya gue pernah tuh starter nya tiba-tiba ga mau idup. Tapi don’t be panic. Yakin semua akan baik-baik aja. Tanggapi dengan kepala dingin dan pikiran positif. Pasti semua akan baik-baik aja. Gue pernah tuh waktu traveling naik motor di sulawesi selatan, dari Toraja ke Makasar, berkendara sampe jam 2 pagi! Tapi berhubung waktu itu gue bedua yaaaa, jadi so far so good. Sekitar jam 8 malam ketika kita melewati jalanan sepi, kanan kiri hutan tanpa penduduk, gue mikir gimana ceritanya kalo tiba-tiba ban bocor disini. Dan mungkin juga temen gue mikir hal yang sama, akhirnya terjadilah apa yang kita pikirkan, ban beneran bocor sodara-sodara. Tetapi Tuhan masih melindungi kami, tidak jauh keluar dari hutan sepi itu, ada perkampungan daaaannn ada bengkel! Tapi tutup dong. Beruntung orangnya berbaik hati mau buka lagi dan bantu tambal ban. Teruuuss sambil nunggu tambal ban, kita makan duren! Bwahahaha #cara mensyukuri dengan membuat diri happy. Jadiiiii moral of the story adalah, berfikirlah positif, tidak ada masalah pada motor, maka Insyaallah motor akan baik-baik aja. Terbukti, pikiran positif ku berimbas pada lancarnya perjalanan. Motor ga pernah mogok, ga pernah bocor, dan ga pernah rewel.  Dan jangan lupa, yang terpenting berdoa yah semoga diberi kelancaran.

Ga semua jalan mulus kalo ekspolre jawa lewat jalur utara, ada juga yang masi di perbaiki dan dibangun. but so far so good kok. jalannya masi bisa dilewati.

88.  Kok sendirian?
Bedua kok ma motor. Ya masa traveling harus bawa orang sekampung. Ya itu tadi, back to question, now or never. Kalo nunggu da temennya yang punya waktu yang sama, yang punya tujuannya yang sama,yaaa ga pergi-pergi.
99. Ujan-ujanan tiap hari ga sakit? Minum multivitamin?
Kagak. Rajin minum air putih, rajin makan, rajin tidur yang cukup tok.
110.Dibolehin sama orang tuanya?
Alhamdullilah yah…*sambil senyum2. Padahal….. -_- ngasitaunya belakangan klo trip dah kelar.



 

111. Uda abis berapa liter tu bensin?
Ups, lupa ga nyatet. Pan buat ngitung biaya pengeluaran yak *ooohhh bodohnyaaa dong dong dong. Tapi gue inget berapa km jarak yang gue tempuh kok, nyaris 3000km huwakkkkk *bangga.
112. Kenapa jalan-jalannya naik motor, kenapa ga naik bis aja?
Lebih cepet, efisien, bisa berhenti suka-suka, bisa lewatin jalan-jalan tikus, dan yang terakhir jauuuuuhhh lebih hemat *yang paling penting. Tapi beneran, naik motor sangat efisien waktu, ga perlu nunggu lama gara-gara nunggu bis penuh, ga perlu pula nyari2 sewaan motor kalo mau ke tempat wisata yang ga ada angkutan umumnya. Tempat wisata di Indonesia kan banyak yang ga bisa diakses pake angkutan umum.

It's a long long journey
Jembatan Tua
 
113. Kamu beneran berangkat dari Bali?
Lah liat aja pak plat nya DK. Dalam hati, ga percaya ya sudah. Pernah juga karena gue males ngomong panjang lebar kalo gue aslinya dari Kalimantan, tapi bawa motor plat DK, karena start nge tripnya dari Bali, jadi gue bilang aja kalo gue orang Bali. Ujung-ujungnya gue dipanggil  “mbok”. Bahasa Bali = mbok. Bahasa Jawa = mbak. Bahasa sunda = teh.

Mmmm apalagi ya, untuk sementara itu yang gue ingat. Selain peratanyaan-pertanyaan laen sejenis, namanya siapa, asal darimana, rumahnya dimana, punya berapa sodara, punya pacar belom…*loh kok. Dah macam mo ngelamar.


Perbukitan batu di Gunung Kidul

 Ada banyak kisah terekam, ada banyak pertemanan terjalin, ada banyak harapan terwujud, dan ada banyak hal yang tak bisa kutunjukkan. Sensasi menikmati pemandangan indah diatas roda yang berputar diiringi terpaan angin segar, sungguh momen yang sangat luar biasa.  Sayangnya hanya bisa kusimpan sendiri *ga punya kamera canggih bok. Perjalanan ini memberikan banyak makna untukku. Mampu melawan segala ketakutan dan kekhawatiran. Serta mendidikku menjadi pribadi yang lebih dewasa. Sehingga membuatku semakin bersyukur atas apapun. Life is wonderful  :)

Saturday, February 7, 2015

Kursus Berbagai Bahasa Asing di Bali

4 comments
peralatan perang kalo lagi belajar. bisa ga mandi en makan nasi seharian. cm baca buku sambil nyemil dipojokan, tp kok ya ga fasih2 seee

Sering banget orang nanyain, ngapain kursus bahasa aja harus ke Bali. Emang di Balikpapan ga ada? *ngina nih. Kenapa ga di Jakarta ato Surabaya? Ada alasan juga kenapa aku milih Bali, karena kalo aku milih tinggal di jakarta tuuuu ga kuat macetnya, kalo di Surabaya meskipun macet juga, alasan utamanya si gue uda pernah tinggal disono 7 tahun. Pan bosen yak. Sebagai seseorang yang suka merasakan petualangan dan pengalaman baru, pasti akan memilih tempat lain untuk tinggal. Pan selama masih bisa memilih.

Lagipula kursus bahasa asing di Bali itu lebih banyak peminatnya, karena disana pusatnya para turis asing dari berbagai negara. Banyak pekerja yang bergerak di bidang hospitality ataupun pekerja dari perusahaan asing yang belajar berbagai bahasa asing disini. Jadi ada beragam kelas bahasa asing yang ditawarkan di Bali. Dan kesempatan dibukanya kelas baru itu lebih cepat, karena selalu ada peminatnya. Belum lagi istri-istri ‘bule’ atau calon istri ‘bule’ di Bali, biasanya juga ambil bagian di kursus bahasa asing, untuk belajar bahasa suaminya. Sampe-sampe seringnya gue dipikir calon istrinya ‘bule’, makanya ikutan kursus bahasa *mentang-mentang kulit gue eksotis huh. 

Tapi yang paling utama menurut gue kursus bahasa di Bali adalah yang terrrrrrrmurah se-Indonesia. Huwakkkkk tetep yaaa ujung-ujungnya masalah duit. Kalo ga percaya bandingin aja ama harga di kota-kota lain termasuk kota besar seperti Jakarta en Surabaya. Kalo menurutku si, mungkin karena persaingannya cukup banyak, dan ada banyak stok guru yang mampu berbahasa asing di Bali (biasanya si mantan guide, orang yang pernah kerja di luar negeri dll). Memang gurunya orang Indonesia, bukan native speaker, tapiiiii mereka jago loh. Karena mereka juga suda berpengalaman. Bahkan, banyak guide di Bali yang modalnya cuma kursus bahasa asing seperti ini. 

Padahal gue punya temen lulusan sastra perancis ngabisin bertahun2 kuliah biar bisa lulus, laaahhh di Bali, banyak guide yang bisa berkomunikasi lancar bahasa perancis cuma dengan kursus bahasa perancis beberapa level. Itupun kaumnya bapak-bapak, bukan anak muda. Jadi meskipun uda berumur, bukan jaminan ga bisa belajar bahasa dengan cepat. Aku aja yang ambil kursus bahasa Perancis di Bali sering pusing karena sussaaaaahhh *padahal masi muda loh haha.

Niat awal di Bali pengen kursus bahasa Spanyol, Jerman, Perancis, Rusia, Jepang, Korea *maruk yah. Tapi yaaa baru ngambil 3 bahasa (Spanyol, Jerman, Perancis), uda ga punya waktu kosong lagi buat ambil kursus bahasa yang lainnya. Lagak gueee dikira gampang belajar bahasa segitu banyak. Cuma belajar 1 bahasa aja suda susaaahhnyaaaa ampun. Tapi gue tetep semangat belajar, tujuan utamaku bukan untuk menguasai bahasa, tapi untuk mengerti dasarnya dan percakapan sederhana. Dan ternyata sodara-sodara, setelah mempelajari bahasa-bahasa itu, kusadari, bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling mudah dipelajari didunia hahaha.

Ya iyalaaahh, bayangin aja ketiga bahasa itu berlaku konjugasi, yang artinya bentuk kata kerjanya berubah sesuai subjek, ditambah berubah sesuai waktu. Belum lagi kalo konjugasinya ga beraturan *hiyyyaaaa.Terussss mereka punya kata depan untuk kata benda, kata benda pun punya kelamin alias gender. Yang gue maksud disini, benda diklasifikasikan sesuai gender, jadi ada yang  termasuk benda feminim dan maskulin *bukan manusia aja yang dikategorikan cewek ato cowok. Jadiiiiiii, ga ada cara lain selain dihafaaaalllll semua-mua ittuuuu. Mana yang benda feminim, mana yang benda maskulin. Bahkan untuk nama negara diseluruuuhh dunia juga pake gender. Rempong yak.
Pasti yang belum pernah mempelajari bahasa-bahasa itu bingung, ngomong apa sih loe len.

Jadi, kalo ada yang bilang bahasa inggris itu susah, anda salah, banyak bahasa diluar sana yang jauuuuhhh lebih susah ndro. Coba kalo bahasa Indonesia. Ga ada perubahan kata karena waktu, ga pake perubahan kata karena subjek, kata benda pun ga pake gender. Kalo hari ini makan, kemarin makan, besok makan, ya kata ‘makan’nya ga berubah, tetep aja ‘makan’, gampang kan. Huh kadang-kadang aku jadi sirik ama ‘bule-bule’ itu, gampang banget mereka belajar bahasa kita, sedangkan kita setengah mati harus ngapalin struktur bahasa mereka yang suka berubah-ubah itu. 

Pernah temen gue di kursus protes ma gurunya, “kenapa si kata-katanya harus berubah-ubah gitu bu?”. Huwakkkk, kita semua pada ngakak lah. Ya iya masa protes ma gurunya. Gurunya kan cuma ngajarin. Kalo mau protes, sama yang buat bahasa nooooh. Sebenarnya penyelesaiannya gampang, mau dipelajari ya silahkan, kalo ga mau ya ga usa protes hahaha.

Tapi sejauh ini, meskipun hanya mampu mempelajari dasar-dasarnya saja, aku suda seneng. Apalagi kalo bisa ber cas cis cus dengan bahasa lain, pasti rasanya luar biasa *impian terdalam. Setiap bahasa memiliki karakternya masing-masing, dan terkadang memiliki kemiripan dengan bahasa lain. Menurutku menguasai bahasa tertentu bukan hanya karena kesenangan, bagiku ini adalah salah satu cara menghormati dan menghargai bangsa lain. Selamat belajar bahasa.

Friday, July 4, 2014

Tips ke Kepulauan Togean via Palu

0 comments

Pulau Kadidiri

Aku menulis tips ini berdasarkan pengalaman pribadi. Jadi aku berharap loe-loe pade yang mau berusaha susah payah browsing untuk susun ittenary perjalanan ke Togean bisa lebih prepare. Karena ada beberapa hal penting yang perlu kalian ketahui, apalagi untuk yang sejenis female solo traveler.

Ada banyak jalan menuju ke kepulauan Togean, salah satunya lewat Palu. Nah tips lewat Palu lah yang akan saya sampaikan di blog ini.  

1. Pertimbangkan lebih jeli transportasi apa yang akan digunakan untuk menuju Ampana. Dan yang lebih penting jam berapa tiba di Ampana. Ampana itu kota kecil yang agak sepi. Kalo punya kerabat disana sih sepertinya tidak ada masalah. Karena saya tidak punya kerabat disana dan tiba di Ampana jam 3 subuh, tidur-tiduran di pelabuhan sendirian bukanlah ide yang bagus. Dan mencari hotel pada jam segitu seperti mencari jarum di tumpukan jerami, karena rata-rata mereka tidak buka 24 jam. Saya menggunakan mobil travel dari palu yang cuma berangkat pagi dan sore. Jika berangkat sore hari, maka anda akan tiba di Ampana di waktu yang sangat tidak menguntungkan seperti saya. Jadi jika kalian menggunakan mobil travel better pilih yang berangkat pagi. Selain masi bisa melihat pemandangan selama perjalanan, juga masi bisa menginap di hotel di Ampana untuk mengejar kapal keesokan harinya.

Catatan : untuk bis malam saya kurang tau ada atau tidak, karena ketika saya tiba di terminal Palu selepas maghrib, terminal gelap dan tidak ada orang.

2. Cek jadwal kapal ke Togean ter-update. Tentukan ingin naik kapal Ferry, Puspita, atau kapal klotok. Karena beda kapal beda pelabuhannya. Kalo saya sih prefer kapal ferry. Meskipun pelabuhannya agak jauh dan lebih lambat jalannya tapi luasssss. Kalo pake kapal Puspita emang lebih cepet dan pelabuhannya di tengah kota, tapi sempit dan berebutan.

3. Jika tujuan kalian menginap di Pulau Kadidiri dan berniat menginap di penginapan yang paling murah, pastikan anda sudah booking sebelumnya. Karena sering full booked.

4. Meskipun biaya penginapan sudah termasuk makan 3x, bawalah persediaan makanan pribadi, karena tidak ada toko disini.  

5. Berhati-hatilah membeli makanan di pelabuhan ferry ampana, harga nasi lauk ayam jauuuuuhhhhh lebih mahal daripada menu ikan. Menu ikan cuma 5ribu perak, menu ayam 20rb sebungkus.

Friday, November 1, 2013

Victoria Park, TKW, Indonesia

1 comments
Victoria Park, Hongkong (dok pribadi)

"Heehh mbabu nang ndi koe?"

Aku melongo waktu ditanya begitu sama seorang TKW berbodi mungil berlogat jawa medok di Victoria Park. Lalu bergumam tak mengerti, "mbabu..??"

Setelah beberapa detik otakku baru nyambung kalo aku disangka jadi TKW juga sama sperti mereka.
Ku timpali dengan sedikit bahasa Jawa yang ku ketahui, "Kenapa pake bahasa babu seeeeh, kerjo ngono loh".

Dia si berbadan mungil tak memperdulikan perkataanku malah bertanya lagi, "mbabu nang ndi kok?"

Ku jawab, "aku ga kerja disini"
Dia tanya, " Lah terus?"
Ku jelasin, "cuma jalan-jalan"
Ditanya lagi, "Terus temen-temennya mana?"
Ku jawab, "Cuma jalan sendiri"
Seraya takjub, "Ahhhh, mbojok koeeee"
Ku timpali,"Loh kok ga percaya"
Dia bilang, "ga mungkin melaku-melaku dewe"
Ku jawab, "Emangnya kenapa kalo jalan sendiri"
Dia timpali lagi, "Ya ga mungkin jalan-jalan sendiri kesini, emangnya ga nyasar"
Ku jawab, "Engga"

Terus masi penasaran dia tanya sambil mengulurkan tangannya, "Coba seh sapa namanya"
Ku jawab sambil menggenggam jabatan tangannya, "Lenny"
Dengan takjub dia berteriak, "Wooooo iyo eh ga mbabu de'e, tanganne alus ngene"

Aku masih terkaget-kaget dengan histeria gadis mungil itu. Begitu terkejutnya ia ketika mengetahui kalau aku ga 'mbabu' di hongkong tapi cuma jalan-jalan sendirian.

Sambil minta uang cilok enak 2 bungkus seharga 20 dolar hongkong yang dijualnya, dia masi tanya-tanya gimana caranya aku bisa nyampe hongkong sendiri tanpa pake agen tour. Dengan heran dia geleng-geleng sambil bergumam, "pasti kamu orang kaya ya"

Aku cuma tersenyum kecut.
Ogah-ogahan mau memperpanjang cerita gimana aku bisa nyampe hongkong tanpa harus jadi orang kaya.

Kemudian setelah memastikan kalau aku bukan 'babu', si cewek mungil penjual cilok ini minta ijin foto denganku, menggunakan handphonenya yang cukup canggih. Perawakannya yang kurus dengan rambut cepak membuatnya lebih mirip pria. suaranya lah yang membuatku yakin bahwa dia perempuan.

Berulang kali dia mengagumi foto yang barusan diambil itu sambil berujar ke mbak Ayu, TKW lain yang duduk sebangku di taman, "Ayune yo mbak iki".

Tak berapa lama pun dia pamit untuk mengambil cilok lagi di rumah majikannya yang katanya dekat taman ini. Mbak Ayu pun mencegahnya kabur, karena dia masih penasaran rumah majikannya dimana. Di sekeliling kita hanya gedung-gedung bertingkat, yang itu berarti hanya ada apartment dan flat-flat yang menjulang. Dan gadis mungil itu hanya menunjuk ke arah gedung-gedung sekitar taman, seolah hanya asal tunjuk.

Tapi gadis itu lebih gesit untuk melepaskan diri dari mbak ayu yang jauh lebih tinggi.

Setelah gadis itu kabur dengan penuh kemenangan, aku bertanya ke mbak Ayu, TKW asal Jawa Timur yang sudah bertahun-tahun tidak pulang,"Dia tinggal dimana mbak?"

Mbak Ayu malah berujar, "Itu dia. Dia bilang deket sini, tapi aku gak yakin."

Kutoleh kepalaku ke arah gedung yang sebelumnya gadis mungil itu tunjukkan, entah itu gedung flat atau apartment. Tapi sepengetahuanku, di Hongkong harga tanah sangat mahal. Bahkan artis terkenal pun belum tentu mampu beli tanah sendiri. Jadi, kebanyakan yang mampu mendatangkan dan memperkerjakan pengurus rumah tangga, adalah mereka yang sudah punya rumah di tanah sendiri. Penghuni apartment ataupun flat jarang memiliki pengurus rumah tangga yang gajinya cukup besar itu.

mba ayu

Hal itu juga diamini oleh mbak Ayu. Mba Ayu sendiri bekerja di sebuah rumah villa di pinggir pantai dengan pemandangan cantik. Majikannya adalah pengusaha sukses, oleh karena itu mampu beli tanah sendiri di Hongkong yang sempit ini.

Makanya mbak Ayu agak gak yakin ketika gadis mungil itu menunjukkan rumah majikannya diantara gedung-gedung itu. Entah dia TKI ilegal, atau memang majikannya tinggal diantara gedung-gedung itu.

Mbak Ayu bercerita, ada banyak TKW disini yang melarikan diri dari majikannya karena tidak suka terikat kerja, atau ketika kontrak kerja sudah habis mereka masih tetap ingin tinggal di Hongkong. Kebanyakan dari mereka lebih suka hidup disini karena lebih aman dan nyaman, penghasilan tinggi, dan lebih modern.

Kebanyakan orang-orang seperti itu bekerja dengan menjual makanan Indonesia, seperti jamu, cilok, nasi kuning, pecel, nasi campur dan lain lain. Biasanya dijual di taman Victoria ini, karena TKW Indonesia berkumpul disini.

Aku jadi teringat cilok yang kubeli per bungkus kecil seharga 10 dolar hongkong, kalo dirupiahin bisa nyampe 18 ribu. Malah aku beli 2 bungkus, sangking kangennya makan makananan Indonesia, setelah beberapa hari tidak punya pilihan lain selain makan fast food. Tapi kuakui, meskipun mahal rasanya sungguh lezat, bumbu kacang dan ciloknya yang masi hangat benar-benar menyatu. Bukan karena aku kelaparan, tapi memang buatannya enak.

Sejenak aku merasa bersyukur ada yang jualan makanan seperti itu disini, setidaknya dijamin halal.
Tapi seperti cerita mbak Ayu, karena orang-orang yang seperti ini pula, polisi sering melakukan razia, terutama di taman ini, merazia TKI-TKI bandel.

Pantasan aja, sewaktu tiba di Imigrasi Hongkong, pegawai imigrasi memandangku dengan tatapan yang menyelidik setelah menerima passportku. Dan menanyakan segala hal dengan detail mulai passport, tiket pulang, dan tempat tinggal. Bahkan dia minta aku menunjukkan semua tiket penerbangan yang kubawa untuk perjalanan ini sampai pulang.

Rupanya, dia khawatir aku menjadi TKI ilegal. Tapi cara tatapannya sungguh membuatku seperti kriminal. Dari negara-negara yang aku datangi, cuma di kantor Imigrasi ini aku merasa sebagai orang tertuduh. Bahkan untuk basa basi sapa menyapa saja tidak ada. Daripada bertanya dengan mulut, dia lebih suka membaca sendiri berkas-berkas perjalananku.

Memang memeriksa dokumen adalah tugas mereka. Menentukan mana yang boleh masuk, mana yang tidak untuk keamanan negara. Tapi bukan berarti lantas diselidik dengan tatapan yang sama sekali membuat tidak nyaman. Apalagi ketika kita tidak melakukan kesalahan apapun. Bukankah turis adalah tamu yang turut membantu menaikkan perekonomian negara yang dikunjungi. Atau apakah karena aku pemegang passport Indonesia, yang TKI-nya banyak yang bandel-bandel...

Victoria Park menjelang siang semakin ramai. Ada banyak sekali TKW yang juga duduk-duduk santai bercengkerama dengan TKW lain. Cukup aneh mengingat hari ini bukan hari libur. Kalo mbak Ayu memang sengaja minta ijin pada majikannya untuk libur hari Senin karena ada yang mau dia urus di Bank. Menyenangkannya, disini juga cukup banyak dibuka Bank dari Indonesia seperti BNI dan Mandiri.

Telingaku juga mendengar bahasa-bahasa yang sangat familiar di taman ini. Bahasa yang sangat kukenali ketika aku masih kuliah dulu, bahasa Jawa! Disamping kanan kiri depan belakang, banyak TKW yang duduk-duduk sambil menyantap makan siang dan bercengkerama bahasa jowoan. Mereka makan menu masakan Indonesia, bahkan ada pula yang santai-santai ngobrol menaikkan kaki ke kursi sambil ngerujak. Mbak Ayu bilang, rata-rata mereka memasak di rumah dan membawa ke taman ini untuk dimakan bersama-sama TKW yang lain. Seperti piknik.

Tapi sepertinya orang-orang yang berada di taman ini hampir semuanya berpiknik. Masing-masing membawa makanan yang kemudian dimakan sambil duduk-duduk di bangku taman. Bukan hanya para TKW, tapi juga turis berambut pirang, orang-orang Timur Tengah, serta orang cina. Termasuk aku dan mbak ayu.

Kalau mbak Ayu sendiri ga sempat masak, jadi dia beli nasi campur bungkusan di warung Indonesia yang letaknya tidak terlalu jauh dari Victoria Park. Andai aku tahu letak warung itu sebelumnya, pasti aku membeli makanan dari situ.

Aku juga membawa makanan. Aku beli beberapa snack, buah blueberry dan juga roti dari supermarket lumayan besar di seberang taman. Bahkan sangking gelap mata, ingin ku beli beberapa jenis buah sekaligus di supermarket itu, karena jika dijual di Indonesia harganya jadi meroket. Seperti buah blueberry, dan berkotak-kotak buah anggur jumbo berbagai warna. Untung logika ku masih bisa jalan. Siapa yang akan menghabiskan buah sebanyak itu, membawanya saja sudah berat. Padahal masih ada beberapa tempat yang ingin kudatangi.

Uniknya harga buah-buah itu berbanding terbalik dengan singkong. Aku sempat menemukan ketela pohon alias singkong ditata apik di etalase supermarket, dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan buah blueberry yang dijual disini. Di Hongkong, singkong menjadi makanan mahal. Tempat menjualnya pun bukan diatas kain kumal pinggir jalan seperti yang biasanya ku lihat di Indonesia. Mereka tampak elegan disana, berjajar dengan makanan-makanan mahal lainnya. Entah bagaimana aku tersenyum bangga, melihat singkong itu disana. Akhirnya aku tau, singkong tidak selalu identik sebagai makanan orang kampung.

Sambil menyantap makan siang kami, kami berbagi banyak cerita. Termasuk mendengarkan curhat mbak ayu soal kekasihnya yang bekerja sebagai TKI di Korea Selatan.


Menurutku, mba ayu wanita Indonesia yang ayu. Dan termasuk mengikuti gaya berpakaian ala Hongkong. Dia berkulit kuning, berambut keriting pirang panjang yang dibiarkan terurai. Menggunakan baju long dress yang dia sebut daster pada kekasihnya. Long dress nya berwarna putih campuran pink yang berenda-renda. Bajunya yang hanya bertali di masing-masing bahu ditutupi dengan menggunakan pasmina bercorak lembut. Tak lupa dilengkapi dengan high heels. Melihatnya jadi teringat film-film Korea bertemakan 'piknik di pantai', tinggal ditambahi topi bundar yang lebar saja.

Dia juga memasang foto-foto gaulnya di pic profile akun messanger. Siapapun yang melihatnya, tak akan pernah menyangka bahwa dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Setelah lama berbincang dengannya, baru kusadari dia membawa koran berbahasa Indonesia yang diselipkan didekat tasnya. Aku merasa takjub bagaimana dia mendapatkan koran itu.

"Ohh, ini ada banyak di KBRI dan Bank-bank Indonesia mbaakk. Disediakan gratis. Ada lumayan banyak koran-koran berbahasa Indonesia di Hongkong kok", ujar mbak Ayu.

Dia lantas menyebutkan satu per satu koran bahasa Indonesia yang ia ketahui diproduksi disini. Tapi pada akhirnya tak ada satupun yang ku ingat.

Ku baca setiap halaman  koran itu. Isinya seputar para TKW Indonesia di Hongkong. Ada kisah sedih, ada juga kisah sukses. Ada TKW yang melarikan diri dari majikannya karena dianiaya. Ada pula TKW yang terkena kanker tetapi tidak dibiayai pengobatannya oleh majikan, karena bukan jenis penyakit yang diasuransikan oleh majikannya. Ada juga kisah sukses TKW yang bekerja sebagai pengurus rumah tangga pada siang hari dan kuliah pada malam hari. Ada juga yang setelah bekerja di Hongkong sekian lama menjadi wiraswasta sukses.

Selain itu, ada banyak sekali iklan jasa penyalur tenaga kerja ke majikan baru di Hongkong dengan berbagai kelebihan agen masing-masing. Sehingga jika sudah habis kontrak kerja, bisa dibantu agen untuk mendapatkan majikan baru.

Aku pun jadi penasaran menanyakan beberapa hal ke mbak Ayu. Untungnya kami cepat akrab, jadi bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang lebih privacy. Apakah senang kerja disini? Apakah majikannya baik dan tidak pernah kasar? Berapa standart gaji disini?

Mbak Ayu dengan santai menjawab, "Dibilang betah ya betah mbak. Sudah 3 tahun belum pernah pulang. Hidup disini benar-benar nyaman. Tidak khawatir dengan jambret atau copet. Aman jalan-jalan sendiri. Transportasinya mudah. Gaji besar. Dan majikan saya sangat baik. Tapi meskipun gaji besar, kita juga harus pinter-pinter pegang duit, karena kalau tidak sama saja. Karena biaya hidup disini juga sangat mahal".

Mungkin mbak Ayu termasuk dari segelintir TKW yang beruntung mendapatkan majikan baik. Jadi setelah beberapa tahun kontraknya dilanjut terus.

"Kalo ditanya soal gaji sih, standart gaji paling rendah di Hongkong 9000 dolar Hongkong", tambah mbak Ayu.

Wow, menggiurkan. Pantasan banyak yang betah kerja disini. Pantasan pula banyak TKW yang telah jadi orang kaya di kampungnya.

Tapi dia sempat mengeluh, giginya terasa sakit sudah sejak lama. Waktu kutanya kenapa tidak berobat, katanya berobat di Hongkong sangat mahal, karena perawatan gigi tidak termasuk ke dalam asuransi kesehatan yang diberikan oleh majikannya.

Aku jadi teringat berita di koran yang dibawa oleh mbak Ayu. Seorang TKW menderita kanker payudara dan harus segera di operasi. Tetapi terkendala oleh majikannya yang menolak untuk membiayai pengobatan, karena tidak termasuk ke dalam biaya yang di cover oleh asuransi. Dan kuasa hukum TKW tersebut sedang memperjuangkan hak kliennya untuk mendapatkan pengobatan full dari majikannya. Karena dicover atau tidaknya oleh asuransi kesehatan, sang majikan tetap berkewajiban untuk memelihara kesehatan pekerjanya.

Lantas mbak Ayu berujar, "Mungkin baru bulan depan saya bisa berobat ke dokter gigi, karena bulan depan saya pulang ke Indonesia 1 bulan. Dokter gigi di Indonesia jauh lebih murah".

Ya, dimana penghasilan rata-rata lebih tinggi maka standart hidup lebih mahal. Dimana penghasilan rata-rata lebih rendah maka standart hidup lebih murah. Hukum alam. Sungguh ironi, jika untuk berobat saja harus tunggu pulang ke Indonesia.

Hidup di daerah berpenghasilan tinggi memang tidak selalu menyenangkan.



 

Followers